https://www.ufabet1688.org/ คลิปโป๊
Keracunan Sianida Dari Singkong

Singkong (disebut juga ketela pohon, Manihot utilissima Pohl., Manihot esculenta Crantz, manioc, yucca, tapioca) merupakan famili Euphorbiaceae, berasal dari Amerika Selatan, merupakan bahan pangan pokok di berbagai negara berkembang di Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, serta Asia Tenggara, karena merupakan sumber kalori pada diet manusia. Umbi dan daunnya sering dikonsumsi manusia.

Singkong juga diolah menjadi tepung tapioka, tiwul, keripik, diet gari, bahan penjilid kertas, bahan baku industri tekstil, kosmetika, produksi alkohol, dan monosodium glutamate (MSG). Di Kamerun, singkong diolah menjadi masakan yang disebut Ebobolo. Uniknya, ekstrak air umbi ketela pohon efektif digunakan sebagai moluskisida (pembasmi alami) keong mas (Pomacea canaliculata L.).

Kandungan Sianida

Dari riset terhadap lebih dari 2.500 spesie, diketahui bahwa singkong mengandung glukosida sianogenik berupa linamarin dan lotaustralin. Glukosida ini juga ditemukan di semanggi, rami, buncis, teratai, seroja, dan karet.

Sianida di singkong bervariasi. Daunnya mengandung sianida 12,5-85,4 miligram/100 gram berat segar, akar dan batangnya 2,2-16,6 miligram/100 gram berat segar, dan kulitnya 11,1-70,0 miligram/100 gram berat segar. Kandungan HCN singkong dapat diukur dengan uji Guinard.

Sejak zaman Mesir kuno, berbagai tanaman yang mengandung sianida dan turunannya, seperti buah almon, buah ceri, daun salam, biji buah persik, dan ketela pohon telah digunakan sebagai racun yang mematikan. Kata sianida berasal dari bahasa Yunani kuno, kyanos, yang berarti biru.

Untuk sianida, dosis lethal (penyebab kematian) adalah 300 miligram atau lebih. Di dalam darah, kadar sianida lebih dari 2,7 miligram/liter juga menyebabkan kematian.

Potret Klinis

Kasus keracunan sianida pertama kali dilaporkan Wepfer pada tahun 1679. Keracunan HCN ditandai dengan hipoksia (berkurangnya oksigen) di jaringan yang progresif. Komponen induk yang disebut sianogen klorida juga menyebabkan iritasi mata dan membran mukosa yang serupa dengan yang diproduksi oleh klorin.

HCN juga mengakibatkan menyempitnya pembuluh darah arteri jantung dan paru-paru, menurunnya cardiac output (curah jantung), melebarnya pupil mata, tubuh lemas, berkeringat banyak, bernapas menjadi cepat, pelan, terengah-engah, nadi menjadi cepat, muntah, dan dapat terjadi kejang, yang diikuti koma dan kebiruan.

Gejala-gejala setelah terpapar uap atau asap pekat HCN: napas cepat dan dalam dan tekanan darah naik 15 detik setelah menghirup HCN, kejang dalam 30-45 detik, hilang kesadaran dalam 30 detik, napas spontan berhenti mendadak dalam 3-5 menit, denyut jantung melambat, tekanan darah turun, lalu henti jantung mendadak dalam 5-8 menit.

Gejala-gejala setelah terpapar uap atau asap HCN yang kurang pekat atau setelah menelan atau terpapar cairan HCN terjadi beberapa menit sebelum onset (serangan), berupa merasa takut atau cemas, vertigo (pusing tujuh keliling), merasa lemas, lemah, mual tanpa atau disertai muntah, tremor, otot gemetar, menggigil, sakit kepala, semakin lama semakin tak sadar, akhirnya pingsan dan sulit bernapas.

Obat Keracunan Sianida

Berikan arang aktif (minimal dua puluh tablet norit) sebagai pertolongan pertama, lalu bawalah penderita secepatnya ke RS atau UGD terdekat agar segera tertolong. Diperlukan observasi selama 24-48 jam untuk antisipasi terjadinya komplikasi.

Penderita juga bisa diberikan obat penawar sianida, seperti natrium tiosulfat, amil nitrite, sodium nitrit, atau hidroksikobalamin, untuk mempercepat proses detoksifikasi. Obat golongan epinephrine juga bisa diberikan, untuk membantu kerja jantung dan pembuluh darah dalam mengalirkan oksigen. Sedangkan obat kandungan natrium bikarbonat bisa diberikan apabila pasien mengalami asidosis. Apabila penderita mengalami efek kejang maka obat-obatan anti kejang, seperti lorazepam, midazolam, dan fenobarbital, dapat diberikan untuk meredakan kejang. Jenis

Jenis-jenis obat yang disebutkan di atas pada umumnya memerlukan resep dokter. Pastikan penderita diperiksa terlebih dahulu oleh dokter. Resep yang diberikan oleh dokter dapat ditebus pada apotek terdekat atau gunakan jasa Apotek Online untuk membeli obat dari media daring.

Bila terapi berhasil diberikan, harus berhati-hati dengan kejadian penyerta. Misalnya, krisis neurologis berupa koma, kejang, dan gagal napas. Perlu juga diwaspadai terjadinya krisis gawat jantung dan pernapasan berupa pembengkakan paru yang berefek menjadi hepatitis toksik (radang hati akibat racun) dan gagal ginjal. Perawatan kejiwaan perlu pula disiapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *